
Penelitian ini mengevaluasi efektivitas apigenin yang diisolasi dari daun sungkai (Peronema canescens Jack) sebagai agen anti-penuaan berbasis bahan alam pada model hewan uji mencit putih jantan yang diinduksi penuaan menggunakan D-galaktosa. Parameter utama yang diamati meliputi kadar malondialdehid (MDA) sebagai indikator stres oksidatif, kepadatan kolagen kulit, serta jumlah sel fibroblas sebagai penanda regenerasi jaringan kulit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian apigenin mampu menurunkan kadar MDA secara signifikan, terutama pada dosis 100 mg/kg BB, yang menghasilkan nilai terendah dibandingkan kelompok kontrol positif dan mendekati kondisi normal. Analisis histopatologi kulit menunjukkan peningkatan kepadatan kolagen yang signifikan pada dosis sedang dan tinggi, dengan skor tertinggi diperoleh pada dosis 100 mg/kg BB. Selain itu, jumlah sel fibroblas meningkat secara bermakna pada kelompok perlakuan dosis 50 dan 100 mg/kg BB, dengan dosis tertinggi menghasilkan jumlah fibroblas rata-rata paling besar. Temuan ini mengindikasikan bahwa apigenin bekerja melalui mekanisme antioksidan yang menekan peroksidasi lipid, menjaga stabilitas membran sel, mempertahankan struktur kolagen, serta mendukung proliferasi fibroblas. Secara keseluruhan, apigenin isolat daun sungkai terbukti memiliki potensi kuat sebagai agen anti-penuaan alami.
Penelitian ini berpotensi memberikan kontribusi penting dalam pengembangan terapi dan produk kosmetik anti-penuaan berbasis bahan alam lokal Indonesia. Hasil riset ini dapat dimanfaatkan sebagai dasar ilmiah pengembangan fitofarmaka, kosmetik herbal, dan suplemen kesehatan yang aman dan efektif. Selain itu, penelitian ini mendukung pemanfaatan tanaman sungkai sebagai sumber senyawa bioaktif bernilai ekonomi tinggi serta memperkuat kemandirian bahan baku obat tradisional nasional.